Diselimuti dengan kabut kesedihan
Tawa canda bak musuhku saat ini
Apakah aku pun harus berhenti?
Jasad kian membiru
Bahkan saat istirahat terakhirmu
Kau tersenyum penuh ketenangan
Dan aku yang sesak dengan tangisan
Ku sangka masih 100 tahun lagi,
Ternyata datangnya hari ini
Belum banyak persiapanku
Untuk harus mengenangmu
Kamu biru membeku
Mataku merah membengkak
Kau pergi tanpa pamit
Hanya beberapa kode yang kau beri
Tak bisa ku tampung lagi
Jeritan isak tangis kian pecah
Bagaimana bisa aku tanpamu
Tapi kini aku harus hadapi itu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar