Terlalu kejam memang
Ketika mengingat tentangmu
Tentang yang telah berkahir
Kau dan aku tak bisa saling temu
Rindu terlalu kejam
Menikam bagian yang paling dalam
Begitu terasa
Sungguh sangat menyakitkan
Aku terus ditikam
Kadang membuatku hilang arah
Karena rindu
Rindu hanya ku pendam sendirian
Untuk lelaki pertamaku
Lelaki yang sudah tak di sampingku
Kini bait-bait rindu hanya bisa ku bisikan
Aku bisikan ke langit melalui doa-doa
My Diary
Curahan Hati Seorang Anak Kecil :)
Rabu, 31 Oktober 2018
Selasa, 30 Oktober 2018
HITAM PUTIH
Kota, tempat tinggalku
Restoran tempat makanku
Hotel tempat tidurku
Dan kolam renang tempat bermainku
Desa tempat tinggalmu
Meja reot tempat makanmu
Dusun tempat tinggalmu
Dan sungai tempat bermainmu
Aku berkulit putih
Kau berkulit hitam
Aku serba berkecukupan
Kau serba kekurangan
Kita sama-sama mengeluh
Mengeluh akan hidup
Aku merasa bosan
Kau merasa iri
Kau ingin hidup mewah sepertiku
Aku ingin hidup damai sepertimu
Kau tawa canda penuh kebahagiaan
Aku canda tawa penuh kebohongan
Aku pun bermain dengamu
Berbagi kisah hidupku
Kau pun bahagia menyambutku
Dan berbagi kisah hidupmu
Kita terkadang terlalu sombong
Bahkan untuk sekedar berbagi cerita
Karena yang kita lihat
Sejatinya tak seindah yang kita bayangkan
Kini aku mengerti
Betapa sulitnya hidupmu
Dan kamu mengerti
Betapa kejamnya hidupku
Aku bahagia bisa berbagi
Walau kadang hanya sebuah cerita
Karena dengan begitu
Kau tak harus bermimpi ingin menjadi aku
Senin, 29 Oktober 2018
Lupa Terima Kasih
Air terus mengalir
Di saat kemarau ia kering
Di saat hujan ia deras
Rasanya pun selalu kurang
Di luar lebih bersih
Di sana lebih sejuk
Aku berharap tinggal disana
atau berharap tidak disini
Merah putih sudah tak ku banggakan
Hanya simbol di atas tiang
Dan menurutku hanya lambang
Lambang dari suatu negara
Indonesia,
Aku sering menghina
Terkadang menghujat
Tak ada kata-kata manis untuknya
Tapi aku heran,
Kenapa aku masih disini
Menapaki tanpa rasa malu
Atau sedikit membuai dengan kata manis
Ya, aku lupa
Aku dilahirkan di negeri ini
Tapi aku sering menghina
Sedangkan ia menerima ku dengan bahagia
Aku tersenyum
Aku tertawa
Aku berbagi cerita
Dan aku bermain
Aku sudah lupa
Lupa bagaimana caranya berterima kasih
Terutama pada negeriku
Negeriku tercinta, Indonesia
Di saat kemarau ia kering
Di saat hujan ia deras
Rasanya pun selalu kurang
Di luar lebih bersih
Di sana lebih sejuk
Aku berharap tinggal disana
atau berharap tidak disini
Merah putih sudah tak ku banggakan
Hanya simbol di atas tiang
Dan menurutku hanya lambang
Lambang dari suatu negara
Indonesia,
Aku sering menghina
Terkadang menghujat
Tak ada kata-kata manis untuknya
Tapi aku heran,
Kenapa aku masih disini
Menapaki tanpa rasa malu
Atau sedikit membuai dengan kata manis
Ya, aku lupa
Aku dilahirkan di negeri ini
Tapi aku sering menghina
Sedangkan ia menerima ku dengan bahagia
Aku tersenyum
Aku tertawa
Aku berbagi cerita
Dan aku bermain
Aku sudah lupa
Lupa bagaimana caranya berterima kasih
Terutama pada negeriku
Negeriku tercinta, Indonesia
Kamis, 25 Oktober 2018
Terima kasih Allah, Kau kirimkan dia untukku
Aku terheran
Betapa indah yang kumiliki
Aku masih terpana
Bahwa memang Allah Maha Baik
Aku sering meronta
Terkadang ingin rasanya menghilang
Iri terhadap dunia orang lain
Yang ternyata belum seindah yang kulihat
Kini Kau hadirkan
Sosok yang telah lama ku nantikan
Yang mungkin aku tak pernah bayangkan
Lebih indah dari yang ku inginkan
Bagaimana bisa menghina
Sedang yang kudapat tak terhingga
Maafkan aku yang dulu
Yang terkadang tak menganggap-Mu
Dia hadir tanpa diundang
Tatapan seakan berhenti sejenak
Otak tak karuan
Dan jantung bak balon ingin pecah
Aku bersyukur kau hadir
Menyadarkanku pada nikmat-Nya
Aku sering melupakannya
Namun kau hadir mengingatkanku
Betapa indah yang kumiliki
Aku masih terpana
Bahwa memang Allah Maha Baik
Aku sering meronta
Terkadang ingin rasanya menghilang
Iri terhadap dunia orang lain
Yang ternyata belum seindah yang kulihat
Kini Kau hadirkan
Sosok yang telah lama ku nantikan
Yang mungkin aku tak pernah bayangkan
Lebih indah dari yang ku inginkan
Bagaimana bisa menghina
Sedang yang kudapat tak terhingga
Maafkan aku yang dulu
Yang terkadang tak menganggap-Mu
Dia hadir tanpa diundang
Tatapan seakan berhenti sejenak
Otak tak karuan
Dan jantung bak balon ingin pecah
Aku bersyukur kau hadir
Menyadarkanku pada nikmat-Nya
Aku sering melupakannya
Namun kau hadir mengingatkanku
Biru Membeku
Tak pernah ku begini
Diselimuti dengan kabut kesedihan
Tawa canda bak musuhku saat ini
Apakah aku pun harus berhenti?
Jasad kian membiru
Bahkan saat istirahat terakhirmu
Kau tersenyum penuh ketenangan
Dan aku yang sesak dengan tangisan
Ku sangka masih 100 tahun lagi,
Ternyata datangnya hari ini
Belum banyak persiapanku
Untuk harus mengenangmu
Kamu biru membeku
Mataku merah membengkak
Kau pergi tanpa pamit
Hanya beberapa kode yang kau beri
Tak bisa ku tampung lagi
Jeritan isak tangis kian pecah
Bagaimana bisa aku tanpamu
Tapi kini aku harus hadapi itu
Rabu, 24 Oktober 2018
Celotehan Dinda
Kenapa cuma aku?
Kenapa harus aku?
Detak jantung tak beraturan
Denyut nadi seolah berhenti
Tak ku sangka,
Dia yang dulu membenciku,
Bahkan tak ingin saling sapa,
Kini datang kerumahku
Tanpa banyak basa-basi
Dengan setengah gugup
Dia berusaha merangkai maksud hati
Bahwa aku yang ada di hati
Aku terheran dengan sikapnya
Kenapa dahulu dia sangat acuh padaku
Ternyata bukan benci,
Melainkan cinta yang ia miliki
Tak habis pikir,
Bak aktor papan atas
Dia sangat lihai memerankan peran
Seolah dia sangat membenciku
Ternyata di balik itu
Dia sangat mendambakanku
Mengamatiku dengan caranya sendiri
Dan mencitaiku dalam diamnya
Terima kasih,
Kau mencintaiku dengan caramu
Tanpa banyak buaian kata-kata manis
Aku pun kini milikmu
Selasa, 23 Oktober 2018
Cinta Pertamaku
Denyut nadi terhenti,
Kini, dunia tak berpihak padamu
Alam berhenti merawatmu
Nafas sudah membeku
Pertama,
Ya, kau lelaki pertama ku cinta
Lelah tak kau hiraukan
Melihat senyumku kau kembali bersinar
Canda tawaku selalu kau nantikan
Bahkan kau ingin, kau yang ciptakan
Ketika ku beranjak dewasa
Kau mulai takut, takut kehilangan cintaku
Cintaku tak akan pernah berubah
Kau tetap cinta pertamaku
Tetap yang selalu ku rindu
Walau nanti ku kan temukan cinta lelaki yang lain
Tak habis pikir
Tak pernah ku bayangkan
Kini, kita tak bisa saling melepas rindu
Kini, aku tak bisa bermanja denganmu
Kau sudah bahagia
Kau sudah bahagia
Semoga, doa-doaku membuatmu kian bertambah bahagia
Dan kini atau nanti
Kau tetap lelaki cinta pertamaku
Langganan:
Postingan (Atom)